Sastra Lisan Lampung: Pengertian, Jenis, Fungsi, Macam, Bentuk dan Contoh

  • Whatsapp
Sastra Lisan Lampung
Sastra Lisan Lampung

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, atau keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan bahasa sebagai medianya.

Pengertian Sastra Lisan Lampung

Sastra lisan Lampung adalah sastra berbahasa Lampung yang hidup secara lisan, yang tersebar dalam bentuk tidak tertulis (kini sudah diinventarisasi dan sudah banyak yang ditulis). Sastra lisan Lampung merupakan milik kolektif etnik Lampung dan bersifat anonim. Sastra itu banyak tersebar di masyarakat, merupakan bagian yang sangat penting dari kekayaan budaya etnik Lampung dan juga merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Bacaan Lainnya

Jenis-Jenis Sastra Lisan Lampung

Sastra lisan Lampung dapat dibedakan menjadi lima jenis:

  1. peribahasa;
  2. teka-teki;
  3. mantra;
  4. puisi;
  5. cerita rakyat.

Fungsi/Manfaat Sastra Lisan Lampung

Secara umum, sastra lisan dalam kehidupan etnik/adat istiadat Lampung memiliki beberapa fungsi/manfaat dan kegunaan sebagai berikut:

  1. pengungkap alam pikiran, sikap, dan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Lampung;
  2. penyampai gagasan-gagasan yang mendukung pembangunan manusia seutuhnya;
  3. pendorong untuk memahami, mencintai, dan membina kehidupan dengan baik;
  4. pemupuk persatuan dan saling pengertian antarsesama;
  5. penunjang pengembangan bahasa dan kebudayaan Lampung;
  6. penunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Pada zaman dahulu, sastra lisan Lampung disebarkan dari mulut ke kuping (bukan dari mulut ke mulut) pada suasana atau kegiatan berikut ini:

  1. pada saat bersantai;
  2. pada saat mengerjakan kerajinan tangan, seperti menenun tapis, menyulam, atau membuat anyam-anyaman;
  3. pada saat beramai-ramai bekerja di kebun atau di sawah, seperti ketika membuka ladang atau menanam/menuai padi;
  4. pada saat upacara penyambutan tamu secara adat;
  5. pada saat upacara pemberian jejuluk (jejuluk adalah gelar sebelum menikah, diberikan bersamaan dengan pemberian nama) atau pemberian adek/adok (gelar adat);
  6. pada saat berlangsungnya acara muda-mudi;
  7. ketika berlangsungnya acara cangget ’tarian adat’;
  8. ketika berlangsungnya acara bebekas ’penglepasan mempelai’.

Bentuk-Bentuk/Macam-Macam Sastra Lisan Lampung

1. Paradinei/Paghadini
Paradinei/paghadini adalah puisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan.

Contoh:
Tabik pun nabik tabik,tabik pun ngalimpukha
sikam ji sanak tepik,haga numpang butanya
mahaf ki salah cutik,gelakhne mangkung biasa
sikam numpang butanya,jama pekhwatin si wat dija
dst..

2. Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan
Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi, yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat (adek/adok). untuk wilayah Lampung Barat Belalau dikenal dengan istilah betettah adok atau butattah. Adapun ciri-ciri pepaccur adalah :

  1. Tidak ada pembukaan
  2. Berisikan nasihat
  3. Memiliki pola ab ab, abcd, abc abc
  4. Dapat dilakukan dimana sajabagi yang memerlukan nasihat.
    Contoh:
    gelakhne …………. anjak pekon ………….
    bingi hinji lagi senang sekhta bahagia
    lain moneh tipugampang astawa dipumudah
    adokne sanak sinji yakdo lah …………
    dst

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya, pasangan pengantin itu diberi adek/adok sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Pemberian adek/adok dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok (jika dilakukan di tempat mempelai wanita), nandekken adek dan inei adek/nandok.

3. Segata/Sagata
Pantun/Segata/Adi-Adi adalah salah satu jenis puisi Lampung yang di kalangan etnik Lampung lazim digunakan dalam acara-acara yang sifatnya untuk bersukaria, misalnya pengisi acara muda-mudi nyambai, miyah damagh, kedayek. orang jawa mengenal segata dengan istila sisindiran.

1). Ciri-ciri sagata adalah :
a) 4 baris seuntai;
b) Berirama ab-ab;
c) Baris 1,2 sampiran , 3,4 berupa isi;

2). Macam-macam sagata :
a) Sagata sanak ngabambang (mengasuh anak);
b) Sagata nyindegh / nyindir (sindiran);
c) Sagata bukahaga / bekahago (percintaan);
d) Sagata lalaga’an / lelaga’an (berolok-olok);
e) Sagata nangguh (berpamitan).

Contoh pattun/segata:
kapan kak malam minggu
sanak debah debingi
mak ngeliah pudakmu
mak hinok sampai pagi

4. Bebandung/Bubandung
Bebandung artinya adalah puisi Lampung yang berisi petuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam. Pada zaman dahulu bubandung di gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan atau nasihat kepada orang lain dengan cara sindiran ,terkadang di buat dalam bentuk puisi. Bubandung artinya bertemu,bebandung adalah pertemuan yang disampaikan pada saat mengadakan pertemuan adat, acara bujang gadis dan sebagainya. Pada umumnya bubandung berisikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bubandung santeghi berisikan nasihat agama maupun ajaran bermasyarakat;
  2. Bubandung cekhita berisi cerita. Misalnya cerita kesedihan, cerita kegembiraan dan lain-lain;
  3. Bubandung usul (taghsul) berisi ajaran keyakinan idiologi yang perlu di tanamkan;
    Contoh bubandung santri :

Nabi Muhammad ino Rosul
Alam rayo pun bersyukur
Ghasone selamat tigeh dikubur
Carone shalat zakat dan jujur

Gajah lapah cakak mubil
Haga atraksi main bal
Nayah jelma pandai bedalil
Padahal sena ngurangi amal

5. Ringget /Pisaan
Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai. Contoh ringget dengan menggunakan dialek “O”:

Ikam ago betulang
Perwatin ghadeu mengan
Cubo pai sedeu kupei

Butangguh ago mulang
Jamo gham sekalian
Jamo unyen muwaghei

Suaro ghadeu lattang
Ino tando mak supan
Gegehke dilem ngipei

Lain ikam mak senang
Jamo gham sekalian
Kimak ino raso atei

Lain ikam mak senang
Jam kham sekalian
Kimak ina khasa hatei

6. Talibun
Talibun adalah karya sastra lisan Lampung berupa pantun seuntai dan memiliki rumusan sajak akhir abc-abc. contoh :

Nagalinang luh ngaghawang
Unyin sikam sai di tinggal
Sanak atawa pamili

Kibau kak haga ngubang
Lamun ghasan mak gagak
Mulli sikam jo sepi

Gegoh tanjagh kelittang
Susunan anjak awal
Tata titi perreti

Bunyi canang sai lattang
Ngucap selamat tinggal
Sanggup ghasani kughuk buwi

7. Hahiwang
Yaitu bentuk puisi yang berisikan suatu kisah atau cerita sedih. Perbedaan hahiwang dengan bubandung adalah :
1) Bubandung berisi kegembiraan atau kelucuan ,sedangkan hahiwang berisi cerita sedih
2) Syair dari bubandung terdiri dari empat baris dari tiap bait, sedangkan hahiwang enam baris tiap bait atau lebih
3) Lagu/ ritme bubandung dilagukan dengan nada kegembiraan ,sedang hahiwang dengan nada yang sedih.

Contoh hahiwangan dalam dialek “A” :

Sakik sikam ji nimbang
Kak kapan ago segai
Hiwang ni sanak malang
Sikal kilu mahap pai

Hgatong mangedok sai di usung
Ya gila sanak aghuk
Apak ni saka lijung
Sisi di tinggal induk

Sisi di tinggal induk
Mangedok daya lagi
Sikam ghatong jak bungkuk
Nyeghahko jama kuti

Tabikpun di puskam kaunyinna, kalau ya keteghima

Pada saat ini, sastra lisan Lampung sudah mulai disebarkan melalui media massa, seperti radio, televisi, atau surat kabar daerah. Di sebagian besar sekolah jenjang pendidikan dasar yang ada di Provinsi Lampung telah diajarkan bahasa dan sastra Lampung untuk mengisi muatan lokal. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung, program S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menjadikan bahasa dan sastra Lampung sebagai mata kuliah wajib. Begitu pula halnya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Bandar Lampung, Program S-1 Bahasa dan Sastra Indonesia menjadikan bahasa dan budaya Lampung menjadi mata kuliah wajib. Jadi, penyebaran sastra lisan Lampung pada saat ini telah dilakukan secara sengaja dan berencana.

Sumber Referensi:

Liwaya, Agus. 2015. Sastra Lisan Lampung. Diakses di website http://saluasado.blogspot.com/2015/08/bentuk-bentuk-sastra-puisi-lampung-a.html, pada hari Rabu, 10 Februari 2021, pukul. 17.00 WIB.

Sanusi, A. Effendi. 1996. Sastra Lisan Lampung Dialek Abung. Bandar Lampung: Gunung Pesagi.

Sanusi, A. Effendi et al. 1996. Struktur Puisi Lampung Dialek Abung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Sanusi, A. Effendi. 1999. Sastra Lisan Lampung. Bandar Lampung: Buku Ajar FKIP Unila.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *