5 Unsur Piil Pesenggiri dalam Bahasa dan Adat Budaya Lampung Beserta Contohnya

  • Whatsapp
Unsur Piil Pesenggiri
5 Unsur Piil Pesenggiri Masyarakat Lampung

Piil pesenggiri merupakan falsafah/pandangan hidup bagi orang Lampung yang dianggap penting untuk menuntun ke jalan hidup terbaik karena berisi aturan-aturan penting bermasyarakat serta berisi pedoman nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Piil pesenggiri dapat dianggap sebagai “harga diri” bagi adat Lampung.

Piil pesenggiri bersumber dari bahasa arab yang berarti prilaku. Dan pesenggiri yang berarti berjiwa besar, bermoral tinggi, tahu diri dan tau hak serta kewajiban sebagai manusia seutuhnya.

Bacaan Lainnya

Nilai-nilai yang ada pada Piil pesenggiri yakni berupa pandangan atau aturan sebagai Undang-Undang tidak hanya sebagai pemikiran konsep saja melainkan sebagai sistem nilai dan norma dirujuk dan diinternalisasikan oleh masyarakat. Hal yang paling utama dari pengamalan unsur-unsur Piil pesenggiri tentu saja sejajar dengan konsep kehormatan dan harga diri sebab mempunyai kesucian, prestise, kemuliaan dan keagungan (sacred, prestige, radiance, glory, presence).

Unsur-unsur Piil pesenggiri yang melekat erat dalam pergaulan hidup orang-orang Lampung diantaranya adalah bejuluk beadek, nemui nyimah, nengah nyampur, sakai sambayan, tittie-gemattie.

1.Bejuluk Beadek

Bejuluk Beadek merupakan salah satu unsur yang ditanamkan dalam nilai-nilai penting piil pesenggiri. Masyarakat lampung sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada piil pesenggiri tersebut.

Bejuluk Beadek memiliki makna bahwa setiap orang harus senantiasa menjaga nama baiknya dalam wujud prilaku dan tutur kata di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Berikut ini contoh aplikasi/implementasi sikap “Bejuluk Beadek” yang perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kita seperti:

  1. Selalu menjadi pribadi yang menyenangkan bagi banyak orang, mau bertegur sapa, ramah, tidak sombong, tidak pelit, dan mau berbaur dengan sesama;
  2. Tidak mencemari nama baik dengan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan diri sendiri dan masyarakat seperti tidakan buruk korupsi, kolusi, nepotisme, rasis, radikal, etnosentrisme, sukuisme, dan lain sebagainya;
  3. Menjaga nama baik pribadi dengan mengikuti kegiatan-kegiatan positif dimasyarakat seperti kegiatan karang taruna, olahraga bareng warga setempat, ikut kerja bakti, terlibat aktif dalam kegiatan sosial masyarakat;
  4. Menjadi pribadi yang aktif, produktif dan prestatif . Contohnya mengikuti lomba-lomba apapun itu, berprestasi secara akademik dan non-akademik di sekolah, menjadi duta anti narkoba, peduli terhadap kelestarian linggungan (misal tidak membuang sampah sembarangan), dan tentunya dengan berbagai sertifikat dan piala yang luar biasa;
  5. Menjadi pribadi yang peduli dan memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi dalam setiap pekerjaan;
  6. Tidak terjerumus dalam upaya tindakan yang dapat merugikan diri sendiri seperti tidak mencuri, tidak merampok, tidak melakukan tindakan “pembegalan”, tidak menggunakan narkoba serta senjata tajam karena dapat membahayakan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Cara untuk menghindari narkoba ini tentu saja mendekatkan diri kepada yang maha kuasa (Tuhan), melakukan kegiatan positif misalnya bermain futsal/badminton, jogging, menulis, dan kegiatan positif lainnya yang bermanfaat sesuai bakat dan minat (passion);
  7. Tidak menjadi pengkhianat bagi daerahnya, dan tetap menjaga nama baik daerah yang telah melahirkan dan membesarkan namanya;
  8. Menjaga nama baik diri sendiri, keluarga dan masyarakat dengan melakukan cara-cara yang baik sesuai nilai dan norma yang disukai oleh maysyarakat setempat;
  9. Hidup rukun, damai, dan berkepribadian baik kepada sesama kawan dan tidak saling merugikan satu sama lainnya;
  10. Selalu bersikap mawas diri dimana saja berada, tidak berbuat semena-mena terhadap teman atau orang lain.

2. Nemui Nyimah

Nemui Nyimah merupakan salah satu bagian dari unsur piil pesenggiri masyarakat Lampung. Sikap ini tentu saja harus tertanam sejak dini dan hingga dewasa sehingga dapat menuntun jalan hidup seseorang pada sesuatu hal yang baik.

Nemui Nyimah memiliki makna bahwa setiap orang harus memiliki rasa kepedulian sosial kepada sesama dan kesetiakawanan yang tinggi.

Berikut ini contoh aplikasi/sikap yang menunjukkan unsur Nemui Nyimah dalam piil pesenggiri masyarakat Lampung:

  1. Mempunyai sikap kesetiakawanan yang tinggi, tidak menjadi musuh dalam selimut, menjaga nama baik teman di sekitar;
  2. Menolong orang lain yang kesusahan baik secara materi maupun non-materi;
  3. Bersedia membantu teman yang sedang membutuhkan pertolongan kita dengan penuh semangat, ikhlas dan tidak pamrih;
  4. Tidak membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan tertentu dan harus saling senasib sepenanggungan;
  5. Tidak berkhianat terhadap teman/orang lain dan tetap mencerminkan sikap saling percaya dan rukun satu sama lainnya;
  6. Membantu korban bencana alam dengan bersedekah bahan makanan pokok, obat-obatan, pakaian dan lain sebagainya yang penting bermanfaat bagi yang menerima;
  7. Peduli terhadap kehidupan diri sendiri dan kehidupan sosial masyarakat dengan menghindari tindakan-tindakan berbahaya seperti korupsi, kolusi, nepotisme, rasisme, etnosentrisme, dan mencegah sikap radikalisme;
  8. Turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial masyarakat setempat seperti ronda, siskampling, kerja bakti, pembentukan pantia kegiatan di kampung, membantu memperbaiki jalan dengan cara gotong royong, dan lain sebagainya;
  9. Hidup rukun terhadap tetangga, mau berbagi makanan/minuman dengan mereka agar terjalin hidup yang harmonis;
  10. Saling mengasihi, mencintai, dan rasa memiliki yang tinggi terhadap daerahnya dan sebisa mungkin ikut ambil peranan dalam memajukan desa/kampung/kota yang sudah mereka tempati selama ini;
  11. Menjadi sosok yang mau ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan misalnya karang taruna, ronda, dan sebagainya.

3. Nengah Nyappur/Nyampur

Nengah Nyappur merupakan salah satu unsur piil pesenggiri (harga diri) bagi masyarakat adat/suku Lampung.

Nengah Nyappur bermakna bahwa setiap orang harus menjunjung tinggi prinsip/sikap musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan serta menyelesaikan suatu konflik/masalah tertentu dengan menggunakan kepala dingin, sehingga semua keputusan hasil rapat adalah final berdasarkan upaya-upaya musyawarah yang dilakukan secara kelompok dalam suatu bidang tertentu.

Nengah nyappur ini sebenarnya memenuhi unsur dalam sila ke-4 pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan“. Dan prinsip hidup nengah nyappur ini harus tertanam dalam diri setiap pribadi sehingga akan meminimalisir konflik atau masalah di tengah-tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi nengah nyappur dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi masyarakat provinsi Lampung:

  1. Selalu bersikap bijaksana dalam menyelesaikan suatu permasalahan tertentu di tengah-tengah masyarakat;
  2. Selalu bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan hasil rapat;
  3. Selalu berhati-hati dalam menyelesaikan suatu konflik/masalah dan tetap mementingkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi;
  4. Mengupayakan setiap permasalahan diselesaikan secara musyawarah mufakat sehingga keputusan bersama adalah jalan terbaik untuk mencapai visi dan misi suatu lembaga/organisasi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Lampung;
  5. Mau ikut berpartisipasi dalam rapat-rapat kelompok di balai desa, rapat-rapat OSIS dan lembaga kemahasiswaan atau lembaga pemerintah, dan lain sebagainya;
  6. Terlibat aktif dalam kegiatan diskusi-diskusi kelompok, mau menyampaikan pandangan-pandangan, kritik, saran, opini yang sifatnya membangun kebersamaan dan kebaikan bersama;
  7. Tidak emosian dan tidak gegabah dalam menyakapi suatu permasalah tertentu, dan harus diselesaikan secara bersama-sama;
  8. Tidak mengambil keputusan rapat/musyawarah untuk kepentingan diri sendiri, namun harus mengutamakan kepentingan orang banyak (masyarakat) serta menghargai perbedaan pendapat di dalam rapat;
  9. Berani membela yang benar dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam setiap memecahkan dan memutuskan hasil rapat;
  10. Tidak menjadi provokator dalam kegiatan musyawarah yang menimbulkan konflik SARA, tetap mementingkan sikap jujur, kesetiakawanan sosial yang tinggi, baik hati dan bijak dalam mengambil setiap peluang, dan solusi-solusi terbaik dari setiap permasalahan kelompok untuk kepentingan bersama.

4. Sakai Sambayan

Sakai Sambayan bermakna bahwa stiap individu/kelompok harus saling tolong-menolong dan bersikap saling menghargai/menghormati antar sesama.

Adapun aplikasi/implementasi sikap “Sakai Sambayan” dalam kehidupan sehari-hari masyarakat provinsi Lampung antara lain:

  1. Menolong teman, kerabat atau saudara yang sedang tertimpa musibah baik itu sakit, kekurangan materi/finansial, meninggal dunia dan lain sebagainya;
  2. Menolong orang yang kekurangan harta benda dengan cara bersedekah/infaq sehingga dapat meringankan beban hidup mereka;
  3. Menolong korban bencana alam baik dari segi materi maupun dengan datang langsung ke lokasi untuk mengevakuasi korban bencana alam misalnya banjir, longsor, tsunami, kecelakan pesawat jatuh, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, dan lain sebagainya;
  4. Memberikan sedekah kepada anak-anak yatim piatu, fakir miskin, orang yang kehilangan pekerjaan, kaum duafa dan anak-anak terlantar di pinggiran jalan. Caranya yaitu bisa dengan memberikan uang, pakaian yang layak, makanan/minuman, hadiah dan lain sebagainya;
  5. Membantu mencarikan teman pekerjaan untuk menyambung hidup agar lebih produktif dan bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak;
  6. Menghargai orang lain yang lebih tua dari kita. Dan tentu sebaliknya yang muda juga harus menghargai/menghormati yang lebih tua;
  7. Menghargai gender. Jadi kaum perempuan menghargai kaum laki-laki, pun sebaliknya yang kaum laki-laki menghargai kaum perempuan. Hal ini perlu sekali ditanamkan dalam diri setiap individu untuk mencegah tindakan kekerasan berbasis gender seperti kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, kekerasan seksual, bullying, dan lain sebagainya;
  8. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan kepada sesama seperti pelecehan nama baik, menjatuhkan jabatan dan nama baik seseorang, tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain dalam kehidupan bermasyarakat;
  9. Hidup rukun dan damai kepada sesama dan saling menghargai satu sama lain;
  10. Tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetap berbuat baik dalam bersikap dan bertutur kata;
  11. Menghargai setiap perbedaan pendapat, perbedaan gender, perbedaan status sosial, dan lain sebagainya;
  12. Tidak saling mengejek, menjelekkan dan mengolok-olok orang lain hanya untuk memenuhi nafsu sesaat, dan tetap bersikap ramah dan murah senyum kepada semua orang.

5. Tittie-Gemittie

Tittie-Gemattie bermakna bahwa setiap orang harus melaksanakan tugasnya sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan mengutamakan kebaikan dalam setiap sikap dan perbuatan. Sehingga setiap orang mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang baik dan bisa bijak dalam memposisikan diri baik sebagai yang tua atau yang muda.

Contoh Tittie-Gemattie dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung yang perlu dilaksanakan seperti:

  1. Bersikap sopan santun terhadap sesama, sehingga akan terjalin hidup rukun dan damai. Orang yang lebih tua sopan santun kepada yang muda, pun sebaliknya yang usia muda menghormati yang sudah tua;
  2. Selalu permisi ketika akan masuk ke dalam ruangan orang lain;
  3. Tidak semena-mena terhadap orang lain;
  4. Dalam bersikap dan bertutur kata harus lemah-lembut dan tidak keluar kata-kata kotor atau “nama-nama binatang buas”;
  5. Bersikap sopan santun ketika berada di kawasan daerah lain, tidak menjelek-jelekan daerah lain dan memiliki sikap saling memiliki;
  6. Tidak menjelek-jelekan orang lain, membully, dan merendahkan derajat orang lain;
  7. Mempersilakan tamu untuk masuk rumah dan memberikan hidangan makanan/minuman sebagai bentuk sikap sopan santun sekaligus ramah terhadap sesama manusia;
  8. Ketika makan/minum harus duduk dan tidak sambil berjalan. Ini perlu diterapkan baik di rumah, di sekolah, kampus, dan kawasan publik lainnya;
  9. Tidak membuang sampah sembarang;
  10. Permisi terlebih dahulu jika lewat di depan orang banyak. Jika membawa kendaraan, sebaiknya mengklakson sebagai bentuk sopan santun dan menghargai orang lain;
  11. Tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetap hidup rukun;
  12. Tidak memancing emosi orang lain dengan berkata kasar dan senonoh;
  13. Yang laki-laki sopan kepada perempuan dan sebaliknya yang perempuan sopan terhadap laki-laki dan saling menghargai;
  14. Tidak memasuk rumah orang lain tanpa permisi terlebih dahulu;
  15. Tidak mencuri apapun yang bukan haknya.

Nah, itulah pengertian, makna, serta unsur-unsur contoh sikap yang menunjukkan “Piil Pesenggiri” yang harus ditanamkan pada diri setiap individu maupun kelompok. Dengan melaksanakan unsur-unsur Piil Pesenggiri ini tentu saja kehidupan kita di dalam masyarakat akan semakin terjalin harmonis dan hidup rukun damai satu sama lainnya. Selamat mengaplikasikan ya? Semoga orang lain semakin menghargai dan menyukai sikap anda. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Ah, nggak bisa bertindak seenaknya sendiri ya. Ada baiknya memang mempelajari hal seperti ini. Yah siapa tahu saja suatu saat bisa berkunjung ke Lampung. Jadi bisa menempatkan diri.

    1. Iya betul sekali mbak Yuni, memang harus seperti itu kita. Ikuti saja pribahasa “dimana bumi di pijak di situlah langit dijunjung”.